dua hari ngga hunting makanan, dua hari juga ngga ada cerita. dua hari ini gue sakit, jadi cuma terkapar dikost doang. kecapean kali ya..
keluar dari kost cuma buat kuliah minggu doang, itupun kalo bukan karena memenuhi syarat nilai. mungkin gue lebih baik stay at kost aja.
eh, mungkin karena memang gue dilahirkan untuk mengalami hal-hal yang konyol. ada aja cerita. kemaren, balik kuliah minggu tiba-tiba gue kepengen banget makan cilok. lo tahukan gue bukan cilokers, but gue ngidam cilok udah kayak emak-emak lagi hamil muda.
alhasil, gue beli cilok di depan pom bensin kampus gue.
gue lihat seorang laki-laki paruh baya sedang melayani dua gadis muda. (tuikang cilok dan dua pembeli).
gue dengan santai ngampirin tuh tukang cilok. belum sempet gue pesen cilok, tiba-tiba tukang cilok itu berkata..
tukang cilok : pentilnya berapa mas ??
gue : pentil ? (otomatis ngeliat kearah mba-mba didepan gue..)
mba-mba didepan gue : *segera menutupi dadanya dengan kedua tanganya.
gue : *malu setengah mampus
tukang cilok : maksudnya, ciloknya berapa ?? kalau dimalang bakso disebut pentol. nah kan cilok ukuran kecil jadi yo disebut pentil
gue :*nyengir salah tingkah
mba-mba didepan gue : *bayar ciloknya, langsung kabur...
sumpah, gue ngga tahu ekspresi yang gue keluarin saat denger kata "pentil" gue harap, ekspresi binal gue ngga beredar saat itu.
andai waktu bisa gue ulang, gue ngga bakal beli "pentil" disitu. maksud gue, beli cilok disitu.
penawaran si tukang penjual, seolah-olah dia adalah mantan mucikari digang doli. yang menawarkan pentil-pentil secara legal didepan umum.
PS: buat mba-mba yang didepan gue, gue minta maaf atas kebinalan mata gue. dan lo bedua tenang aja, karena "pentil" yang dijual si mas-mas. lebih enak, coz bisa dibubuhi saus kacang and saus sambel. kalo "punya" lo, ngga bisa kan ??
buat mas-mas penjual cilok, gue punya ide gimana kalau logo digerobak cilok lo diganti aja tulisanya untuk menarik pembeli. seperti ..
"pentil daging asli"
0 komentar:
Posting Komentar